Trending

Indonesia Kekurangan Kebijakan Publik Berkualitas, Tanda Krisis Empati di Kalangan Politisi

● Demonstrasi bulan Agustus lalu mengungkap krisis ketidakpedulian dari para elit politik dan aparat.

● Empati merupakan kemampuan dasar dalam kepemimpinan, sehingga sangat memengaruhi kualitas kebijakan publik.

● Anggota politik Indonesia perlu mengimbangi empati afektif dan kognitif melalui kebijakan yang melibatkan partisipasi dan diskusi publik.

Demonstrasi terakhir dengan permintaan 17+8bukti bagaimana kalangan elit politik dan aparat tidak mampu merespons keluhan masyarakat dengan perasaan empati dan kepekaan.

Meskipun di dunia politik, empati bukan hanya kemampuan tambahan, melainkankompetensi inti yang memengaruhi kualitas kepemimpinan kemampuan dasar yang menentukan tingkat kepemimpinan kualitas kepemimpinan yang ditentukan oleh kompetensi utama kompetensi pokok yang menjadi penentu kualitas kepemimpinan kemampuan inti yang berpengaruh pada kualitas seorang pemimpin.

Pemerintah dan para elit politik perlu memiliki rasa empati karena hanya dengan memahami kesulitan masyarakat, mereka mampu menyusun kebijakan yang adil,mencegah terjadinya konflik sosial, serta menciptakan kredibilitas moral dalam pandangan masyarakat.

Mengenal kembali empati

Empati bukanlah istilah yang asing, sebagaimana yang diungkapkan oleh Charlie Kirk—tokoh sayap kanan ekstrem Amerika Serikat (AS)—sebagaiistilah yang dibuat-buat, baru dalam era modern(kata yang dibuat pada masa kini).

Kata ini memiliki asal usul sejarah yang panjang, yang bermula dari bahasa Jerman,einfühlung, yang dalam Bahasa Inggris berartifeeling into alias “merasakan ke dalam.”

Awalnya, istilah empati dipakai dalam seni estetika pada abad ke-19, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1909Artinya, empati memiliki akar sejarah yang kuat, definisinya bersifat rumit, dan manfaatnya jauh melebihi sekadar “merasakan”.

Martin L. Hoffman, seorang pakar psikologi perkembangan dari New York University, Amerika Serikat, menekankan bahwa empati merupakan kemampuan yang sudah terdapat dalam diri manusia.sejak seseorang masih bayi, kemudian berkembang melalui latihan dalam kehidupan sehari-hari.

Tahap perkembangan empati

Risetmenunjukkan bahwa kemampuan empati berkembang melalui berbagai tahap sejak seseorang lahir.

Baca Juga  DPR Tetapkan RUU Kepariwisataan Jadi UU

Bayi yang menangis ketika mendengar bayi lain menangis menunjukkan awal munculnya kemampuan untuk merasakan kesedihan orang lain. Hal ini dikenal sebagaiempati afektif (global empathy), yaitu rasa empati yang muncul pada tahun pertama—bayi meniru perasaan yang mereka lihat, tetapi perasaan mereka tidak disengaja dan belum bisa dibedakan.

Kemudian, empati berkembang menuju tahap yang lebih maju. Misalnya, anak pra-sekolah mulai belajar mengerti bahwa orang lain dapat memiliki perasaan yang berbeda. Pada masa ini, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain mulai berkembang, yang dikenal sebagaiempati kognitif.

Akhirnya, pada usia 11–12 tahun, anak mencapai tahap tertinggi, yaitukemampuan untuk memahami dan merasakan pengalaman orang lain di luar kondisi yang sedang dialami.

Tahap ini sangat penting karena anak mulai menyadari bahwa perasaan orang lain tidak hanya dipengaruhi oleh keadaan sementara, tetapi juga oleh kondisi hidup yang lebih dalam dan berkelanjutan, seperti kemiskinan atau penindasan.

Rasa empati mereka berkembang dari orang-orang terdekat hingga kepada kelompok masyarakat yang sedang mengalami penderitaan, sehingga menciptakan kesadaran sosial yang lebih luas.

Dengan kata lain, anak mampu merasa empati bukan hanya terhadap seseorang, tetapi juga terhadap kelompok yang tertindas atau masyarakat yang sedang menderita, meskipun ia tidak mengenal mereka secara langsung.

Tahap ini penting sebagai dasar kesiapan anakmenjadi warga negara yang memperhatikan dan bertanggung jawab atas isu-isu sosial.

Empati sebagai kompetensi politik

Kasus-kasus represif terhadap demonstrasi mahasiswa, kriminalisasi aktivis, hingga pengabaian aspirasi buruh, dan para guru , merupakan bukti nyata bahwa banyak pengambil keputusan tidak mampu menerapkan empati kognitif, yakni kemampuan untuk berpikir seolah berada di posisi rakyat.

Hal ini terjadi karena frekuensi perasaan antara penguasa dan rakyat tidak seimbang (kurangnya empati emosional). Padahal, empati merupakan hal yang membuat kita menyadari adanya penderitaan orang lain, yang kemudian memicu kepedulian hati nurani.

Baca Juga  Pemerintah AS Lumpuh Akibat Krisis Politik: Layanan dan Ekonomi Terancam

Dengan kata lain, munculnya berbagai bentuk kekerasan sebenarnya menunjukkan bagaimana krisis empati terjadi. Akhirnya, suara rakyat dianggap sebagai ancaman, bukan masukan, kritik dilihat sebagai gangguan terhadap stabilitas, bukan sebagai peringatan yang penting, dan demonstrasi dihadapi dengan kekuatan, bukan direspons melalui dialog.

Mengapa empati bisa hilang?

Kemampuan empati seseorang bisa berkurang atau hilang seiring berjalannya waktu.Sebuah kajianmengatakan bahwa kurangnya kemampuan berempati bisa disebabkan oleh pola asuh yang salah pada masa kecil, paparan stres yang terus-menerus, trauma, atau kondisi kesehatan mental.

Ketidakseimbangan antara empati afektif dan kognitif masih menjadi topik yang terus dipertanyakan oleh para pakar. Para peneliti mengungkapkan temuan lebih lanjut bahwa ketidakseimbangan antara empati afektif dan empati kognitif menjadi penyebab seseorang bersikap tidak produktif.

Sebagai contoh dalam kasus kekerasan. Ketidakseimbangan antara empati afektif dan kognitif bisa saja terjadimenempatkan seseorang sebagai pelaku atau sebaliknya menjadi korbanDan hal ini juga berlaku dalam konteks kepemimpinan.

Seseorang yang memiliki empati afektif tinggi tetapi empati kognitif rendah cenderung lebih mudah terbawa perasaan saat menghadapi masalah. Sebaliknya, individu yang memiliki empati kognitif tinggi namun empati afektif rendah biasanya tampak cerdas tetapi dingin, bahkan bisa bersifat manipulatif.

Hugo ChávezPresiden Venezuela menunjukkan rasa empati yang kuat melalui hubungannya dengan penduduk miskin. Namun, keterbatasan empati kognitif menyebabkan kebijakan yang pro-rakyat cenderung berdasarkan perasaan dan tidak stabil.

Sementara itu, Joseph Stalin merupakan contoh pemimpin yang memiliki empati kognitif tinggi namun rendah dalam empati afektif. Ia pintar dalam membaca dan memanipulasi lawan politik, tetapi dingin dan dikenal sebagai seorang diktator.

Oleh karena itu, sangat penting untuk memiliki keseimbangan antara empati afektif dan empati kognitif agar muncul rasa peduli dan tindakan yang tepat.

Politisi perlu latihan empati

Dalam kasus politisi yang tidak peduli terhadap rakyat di Indonesia, pejabat publik tidak dapat bersembunyi di balik alasan kepribadian pribadi. Mereka perlu memperbaiki diri dengan cara-cara seperti:

  • Menciptakan kebijakan yang partisipatif dengan cara sungguh-sungguh melibatkan masyarakat dalam penyusunan kebijakan

  • Membuka kesempatan diskusi publik yang nyata, bukan sekadar prosedur yang biasa dilakukan

  • Memberikan pelatihan empati kepada petugas agar mereka tidak hanya mengandalkan prosedur keamanan dalam menjalankan tugasnya

  • Melakukan impact assessmentpenilaian dampak yang berbasis manusia, dengan cara mengukur pengaruh kebijakan terhadap kelompok yang rentan sebelum diterapkan.

Baca Juga  Gaza Dikuasai atau Bebas? Ini 20 Poin Rencana Perdamaian Trump

Jika seorang pemimpin mampu menggabungkan empati afektif dan kognitif secara baik, maka keputusan yang diambil tidak hanya mengena di hati masyarakat tetapi juga bersifat rasional dan tepat sasaran.

Dengan kata lain, kebijakan pemerintah akan lebih mudah diterima, lebih didukung, serta berperan sebagai alat untuk memperkuat hubungan dan menciptakan kepercayaan antara pembuat kebijakan dengan masyarakat.

Artikel ini pertama kali diterbitkan diThe Conversation, situs berita nonprofit yang menyebarkan ilmu pengetahuan akademis dan para peneliti.

Charyna Ayu Rizkyanti tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi apa pun yang akan memperoleh keuntungan dari artikel ini, serta telah menyatakan bahwa ia tidak memiliki keterkaitan selain yang telah disebut di atas.