Trending

Patriot Bond Segera Dirilis, Danantara Ajukan Izin ke OJK

Kepala Eksekutif Investasi (CIO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Pandu Sjahrir mengungkapkan, penerbitan Patriot Bonds atau obligasi patriotik akan selesai dalam beberapa minggu mendatang. Danantara baru saja mengajukan rencana penerbitan surat utang ini ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hari ini, Rabu, (1/10).

Mengutip laporan Bloomberg, Pandu menyebutkan bahwa sejumlah pengusaha kaya di Indonesia telah berkomitmen untuk membeli surat utang besar senilai Rp 50 triliun atau sekitar US$ 3 miliar meski mendapatkan tingkat imbal hasil yang lebih rendah dibandingkan surat utang pemerintah yang serupa.

“Mereka memandang ini sebagai cara yang penting untuk berkontribusi kepada negara. Mereka sangat antusias terhadap proyek ini karena bisa dilaksanakan secara profesional dengan skala yang sangat luas,” kata Pandu dikutip dariBloomberg, Rabu (1/10).

Pandu menjelaskan, dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi akan digunakan untuk mendanai lebih dari 30 proyek pengolahan limbah menjadi sumber listrik (PSEL) atau waste to energy (WtE) di berbagai daerah di Indonesia.

Saat ini, Danantara mengelola dana sekitar US$ 8 miliar. Dari total tersebut, 80% akan dialokasikan untuk investasi di dalam negeri, sedangkan sisanya digunakan untuk proyek internasional.

Selain energi terbarukan, dana kekayaan negara ini juga berfokus pada investasi di sektor pusat data, ketahanan pangan, serta rencana masuk ke bisnis manajemen investasi. Kesepakatan dengan mitra potensial dalam bisnis manajemen investasi diharapkan tercapai pada akhir 2025 hingga awal 2026.

Baca Juga  Saham Ayam Goreng Salim (FAST) Melonjak Dua Kali Lipat, Manajemen Buka Suara Soal Haji Isam

Proyek Waste to Energy

Pemerintah bersama Danantara sedang giat mempersiapkan proyek besar PSEL yang diharapkan selesai akhir bulan ini. PSEL adalah salah satu proyek strategis yang diusung oleh Danantara. Salah satu sumber pendanaan untuk membangun proyek WtE berasal dari obligasi patriotik.

Melalui proyek ini, PT Danantara Investment Management akan bekerja sama dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Selanjutnya, PT PLN akan menjadi pembeli utama energi listrik yang dihasilkan dari teknologi berbasis insinerator.

Pada Rapat Koordinasi Nasional Pengolahan Sampah Menjadi Energi (PSEL) atau Waste to Energy (WtE) yang diadakan kemarin, Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani menyampaikan bahwa Danantara telah menemukan 33 lokasi di berbagai daerah di Indonesia yang akan digunakan sebagai tempat pembangunan PSEL. Investasi untuk setiap lokasi mencapai Rp 2–3 triliun, termasuk biaya infrastruktur pendukung.

Ia menyampaikan, pendanaan proyek PSEL ini tidak hanya berasal dari Danantara. Nantinya, perusahaan induk milik negara ini akan mengadakan lelang terbuka, baik dari swasta, pihak asing, pemerintah maupun BUMD untuk memilih mitra dalam proyek tersebut. Pemilihan mitra akan dilakukan setelah lokasi pembangunan PSEL selesai dan siap beroperasi.

Baca Juga  SRAJ Alami Kerugian di Semester I, Perhatikan Rekomendasi Sahamnya

Kepala Eksekutif Investasi Danantara Stefanus Ade Hadiwidjaja menyatakan, proyek PSEL merupakan kerja sama antara Danantara, pemerintah daerah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dengan proyek ini, limbah akan diolah menjadi energi terbarukan berupa listrik yang akan dibeli oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

“Salah satu tugas Danantara adalah menentukan mitra dan teknologi yang sesuai, kemudian melakukan investasi bersama untuk membangun PSEL ini,” ujar Stefanus setelah menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Pengelolaan Sampah Nasional Menjadi Energi di Wisma Danantara, Jakarta, Selasa (30/9).

Konglomerat yang Terlibat dalam Patriot Bonds

Sebelumnya beredar dokumen yang memuat daftar 46 nama konglomerat yang akan berpartisipasi dalam penggalangan dana obligasi nasional. Jumlah uang yang telah terkumpul mencapai Rp 51,75 triliun.

Di dalam daftar tersebut, terdapat nama Antony Salim, Prajogo Pangestu, Sugianto Kusuma, Franky Widjaja, Boy Thohir serta Edwin Soeryadjaya.

MD Global Relations and Governance Danantara Indonesia Mohamad Al-Arief menyatakan, informasi tersebut bukan berasal dari sumber resmi dan pihaknya hingga saat ini belum merilis daftar nama-nama calon pembeli Patriot Bond. Ia juga menjelaskan bahwa skema penerbitan obligasi ini disusun dalam bentuk private placement dan tidak ditujukan untuk umum. Partisipasinya bersifat sukarela (voluntary).

Baca Juga  Di Balik Kenaikan Bunga Deposito Dolar

Ia juga menekankan bahwa Danantara berkomitmen menjalankan tugasnya sebagai pengelola investasi negara dengan penuh kehati-hatian, transparansi, dan sistem tata kelola yang baik. Setiap inisiatif pendanaan ditujukan untuk mendukung transformasi ekonomi jangka panjang Indonesia.

“Prinsip utama dari Patriot Bonds adalah partisipasi sukarela dan tanggung jawab bersama,” ujar Arief dalam pernyataannya, dilansir Selasa (30/9).

Selain itu, menurutnya, skema ini memberi peluang kepada kelompok usaha Indonesia untuk berpartisipasi dalam agenda pembangunan lintas generasi. Sekaligus menjamin keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.

Namun, salah satu pengusaha konglomerat yang tercantum dalam daftar, Dato Sri Tahir, mengonfirmasi keikutsertaannya dalam pembelian Patriot Bond. “Benar, kita perlu dan harus mendukung program pemerintah. Pada akhirnya akan memberikan kesejahteraan bagi rakyat,” kata Tahir saat dihubungi melalui pesan singkat oleh .co.id, Selasa (30/9).