Penggunaan alat kontrasepsi oleh sebagian orang sering kali dilakukan dengan cara kombinasi. Sebenarnya, apakah diperbolehkan menggabungkan pil KB dengan metode pengendalian kehamilan lainnya?
Memilih alat kontrasepsi bisa menjadi sulit bagi beberapa orang. Selain bingung menentukan yang paling sesuai untuk mencegah kehamilan, faktor efektivitas dari alat KB tersebut juga menjadi pertimbangan penting.
Ya, berbagai faktor memang bisa memengaruhi pilihan alat kontrasepsi yang digunakan oleh seseorang, Ibu. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak ada metode yang 100 persen efektif dalam mencegah kehamilan. Oleh karena itu, wajar jika ada orang yang mempertimbangkan penggunaan beberapa alat kontrasepsi agar mendapatkan perlindungan yang maksimal.
Cara memilih metode kontrasepsi
Saat memilih alat kontrasepsi, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan. Dalam hal ini, mereka akan membantu Anda dalam mengevaluasi berbagai pilihan dan memberikan rekomendasi yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan serta kemampuan reproduksi Anda.
Sebagai pertimbangan, Ibu juga dapat bertanya kepada teman atau keluarga mengenai pengalaman mereka dalam menggunakan berbagai cara pencegahan kehamilan. Namun, perlu diingat bahwa setiap individu memiliki reaksi yang berbeda terhadap metode tertentu. Jangan hanya karena satu metode berhasil dengan baik, lalu Ibu mengira metode tersebut akan bekerja optimal untuk diri sendiri.
Jenis-jenis kontrasepsi
Secara umum, terdapat berbagai macam jenis kontrasepsi yang tersedia, Bu. Berikut ini beberapa jenis yang perlu Bu ketahui:
1. Hormonal
Metode kontrasepsi hormonal meliputi pil, cincin vagina, suntikan, IUD hormonal, dan koyo. Pil, koyo, serta cincin vagina yang mengandung campuran estrogen dan progesteron bekerja dengan mencegah proses ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium) serta mengurangi aliran haid. Metode ini memerlukan ketaatan pengguna yang tinggi dalam penggunaannya. Jika digunakan secara benar, tingkat keberhasilannya lebih dari 98 persen dalam mencegah kehamilan, namun jika tidak digunakan dengan tepat, tingkat kegagalannya menjadi lebih besar.
Pil progestin bekerja dengan membuat lendir serviks lebih kental, mengurangi kemampuan sperma untuk memasuki rahim, dan memiliki tingkat keberhasilan sekitar 95 persen dalam mencegah kehamilan menurut laman yang dikutipCornegiewomenshealth.
Pil ini umum digunakan selama masa menyusui dan memiliki tingkat keberhasilan sebesar 95% dalam mencegah kehamilan. Jika pil ini dikonsumsi oleh ibu yang sedang menyusui, tingkat efektivitas keseluruhannya melebihi 98%.
Suntik dan IUD hormonal bekerja dengan cara mengurangi ketebalan lapisan rahim, sehingga mencegah sel telur yang telah dibuahi untuk menempel. Jenis-jenis ini memiliki tingkat keberhasilan lebih dari 98 persen, dan tidak memerlukan ketaatan pengguna.
2. KB non hormonal
AKDR adalah alat kecil berbentuk T yang ditempatkan di dalam rahim oleh seorang dokter. Terdapat dua jenis AKDR, yaitu yang berbasis hormon dan yang berisi tembaga. AKDR berbasis hormon mencegah kehamilan dengan mengentalkan lendir serviks serta mengurangi ketebalan lapisan rahim sehingga menghambat implantasi jika sperma berhasil membuahi sel telur.
IUD tembaga (tanpa hormon) bekerja dengan memicu peradangan pada lapisan rahim, sehingga menghambat proses penempelan sel telur yang telah dibuahi. IUD tembaca sering kali menyebabkan menstruasi yang lebih deras dan bisa berlangsung 1-2 hari lebih lama dari biasanya.
Proses pemasangan IUD biasanya dilakukan di klinik dalam waktu sekitar 10 menit. Banyak pasien merasa tidak nyaman, terutama bagi mereka yang belum pernah melahirkan secara alami.
Membuat janji temu saat sedang menstruasi dan mengonsumsi obat antiinflamasi sebelumnya, serta menggunakan metode lainnya bisa membantu Bunda merasa lebih nyaman. Setelah dipasang, dilakukan pemeriksaan USG dua minggu kemudian untuk memastikan IUD berfungsi dengan baik. IUD diketahui mampu mencegah kehamilan hingga selama 10 tahun, tergantung jenis yang dipilih.
Metode KB non hormonal lainnya adalah metode penghalang seperti kondom, diafragma, tutup serviks, serta alat lain yang secara fisik mencegah sperma sampai pada sel telur.
Dalam penggunaan alat diafragma, spermisida ditempelkan oleh pengguna ke permukaan diafragma sebelum dimasukkan ke dalam vagina. Alat ini akan tetap berada di dalam selama enam jam setelah hubungan intim dilakukan.
Apakah aman menggabungkan pil KB dengan metode pengendalian kelahiran lainnya?
Mengutip dari laman Plannedparenthood,seseorang dapat mengambil pil KB ketika mereka menggunakan alat kontrasepsi IUD tembaga. IUD tembaga ini tidak mengandung hormon, sehingga menjadi salah satu cara terbaik untuk mencegah kehamilan.
IUD tidak memberikan manfaat yang diharapkan banyak orang dalam metode kontrasepsi hormonal, seperti siklus menstruasi yang lebih ringan, nyeri yang lebih sedikit, dan kulit yang lebih bersih dari jerawat.
Meskipun Ibu tidak wajib menggunakan kedua metode tersebut untuk mencegah kehamilan, tidak apa-apa jika menggunakannya secara bersamaan agar mencakup segala kebutuhan karena alat ini merupakan cara yang efektif dalam mencegah kehamilan dan membantu mengurangi menstruasi yang berat.
Dan, penting untuk diingat bahwa meskipun terlindungi dari kehamilan, tetap baik menggunakan kondom untuk mencegah infeksi menular seksual.
Semoga informasinya membantu, Bunda.
Untuk Ibu-ibu yang ingin berbagi tentang pengasuhan anak dan bisa mendapatkan banyak hadiah, ayo bergabung dengan komunitas Squad. Daftar dengan klik diSINI. Gratis!
Pengobatan KB Pria Tanpa Dampak Negatif Ditemukan, Ini Fakta Alat Kontrasepsi Terbaru!
Ketahui tentang Persalinan Melalui Operasi Caesar Sambil Dilakukan Sterilisasi, Apakah Aman?
5 Foto Nina Zatulini yang Hamil Anak Keempat, Mulai Menunjukkan Foto Selfie dengan Perut Buncit










