Trending

Asuransi Kaltim-Kaltara Mengalami Kontraksi, Literasi sebagai Solusi

, BALIKPAPAN — Industri asuransi di Kalimantan Timurdan Kalimantan Utara mengalami penurunan yang cukup besar dalam setahun terakhir. Tidak dapat dipungkiri, ini menjadi tantangan berat dalam usaha penguatan ekonomi.literasidan akses ke layanan keuangan di wilayah tersebut.

Peristiwa ini terjadi di tengah tingkat penetrasi asuransi nasional yang masih paling rendah di kawasan Asia Tenggara.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, Parjiman, mengungkapkan bahwa Kaltim mengalami penurunan jumlah klaim sebesar 10,81%.

“Sebesar Rp599,81 miliar pada Maret 2024 menjadi Rp534,97 miliar pada Maret 2025,” katanya dalam pernyataan resmi, dilaporkan pada Kamis (2/1/2025).

Bahkan, premi yang telah disesuaikan sedikit sebesar 2,61%, dari Rp732,08 miliar berkurang menjadi Rp712,98 miliar pada periode yang sama.

Kendati demikian, kondisi di Kalimantan Utarajauh lebih mengkhawatirkan. Provinsi paling muda di Kalimantan ini mengalami penurunan yang signifikan dengan premi asuransi yang turun drastis hingga 60,33%, yaitu dari Rp99,58 miliar menjadi hanya Rp39,50 miliar.

Penurunan yang sangat signifikan ini sejalan dengan penurunan tajam dalam klaim sebesar 36,39%, dari Rp130,48 miliar menjadi Rp82,78 miliar.

Selanjutnya, pengurangan jumlah perusahaan asuransi di kedua provinsi tersebut mencerminkan tantangan struktural yang lebih besar.

Penetrasi Asuransi Indonesia

Berdasarkan laporan dari Indonesia Financial Group atauIFG ProgressEdisi Februari 2025, tingkat penetrasi asuransi di Indonesia tetap rendah sebesar 1,4%, berada pada posisi terendah di kawasan Asia Tenggara.

Bahkan, angka ini jauh lebih rendah dibandingkan Vietnam (2,2%), Filipina (2,5%), Malaysia (3,8%), Thailand (4,6%), bahkan sangat jauh dari Singapura yang mencapai 12,5%.

“Kurangnya penetrasi dan pemahaman masyarakat terhadap asuransi di Indonesia menunjukkan masih adanya tantangan besar dalam meningkatkan literasi keuangan. Banyak orang belum menyadari bahwa asuransi bukan hanya sekadar pengeluaran, tetapi juga investasi perlindungan jangka panjang untuk diri dan keluarga,” kata Direktur Bisnis Individu IFG Life Fabiola Noralita.

Baca Juga  Cabai Merah Picu Kenaikan Inflasi 0,21 Persen pada September

Sementara itu, tingkat literasi asuransi nasional pada tahun 2025 mencapai 45,45% berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilaksanakan OJK bersama Badan Pusat Statistik. Menurutnya, pencapaian ini masih jauh dari rata-rata negara lain yang berkisar antara 60% hingga 70%.

Kepala Perusahaan IFG, Denny S. Adji, menjelaskan strategi menyeluruh perusahaanholdingBUMN yang mengelola 10 entitas asuransi, jaminan, dan investasi tersebut.

“Strategi utama IFG bersifat menyeluruh dan terpadu, dengan fokus pada tiga pilar utama, yakni pendidikan yang memperkuat, inovasi produk yang murah dan mudah diperoleh, serta kerja sama yang berkelanjutan,” katanya.

Pada pilar pertama, IFG meluncurkan program pendidikan langsung kepada kelompok keluarga muda, pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM), generasi muda, sektor strategis pemerintah, serta kelompok syariah.

Pendekatan ini tidak hanya menyampaikan konsep teoritis, tetapi juga memberikan simulasi nyata mengenai manfaat perlindungan mulai dari pelindungan usaha kecil menengah hingga jaminan kematian untuk keluarga.

Pilar keduafokus pada pengembangan produk dengan model ‘sachet’ yang mencakup kalangan berpenghasilan rendah. Contohnya, produk LifeSAVER dari IFG Life menawarkan perlindungan terhadap cedera akibat kecelakaan dengan biaya premi mulai dari Rp25.000 per bulan.

Sama halnya dengan produk Tanggung Jawab Pihak Ketiga dari Jasa Raharja Putera yang menjamin penyelesaian klaim bagi pengemudi atau pemilik kendaraan.

Pada pilar ketiga, IFG melakukan kerja sama yang luas dengan berbagai pihak terkait. Denny menyebutkan kemitraan IFG dengan Kementerian Pertanian menghadirkan program Asuransi Nelayan dan Asuransi Petani melalui Jasindo.

Baca Juga  4 Prinsip Keuangan Buffett yang Bebaskan Anda dari Utang

Lalu, bancassurancedengan Bank Mandiri dan BTN memungkinkan nasabah Kredit Pemilikan Rumah untuk mendapatkan perlindungan jiwa yang terintegrasi. Selanjutnya, kemitraan denganfintechmembantu penyebaran asuransi mikro melalui aplikasi pembayaran digital yang mencapai jutaan pengguna.

Untuk memperluas cakupan, IFG mengembangkan aplikasi One by IFG sebagaisuper appyang menggabungkan produk asuransi jiwa, asuransi umum, investasi, serta layanan kesehatan digital termasuktelemedicine.

Sistem ini dibuat untuk menghilangkan hambatan lokasi dan waktu, sehingga membuat asuransi lebih mudah diakses oleh kelompok yang sebelumnya tidak bisa mencapainya.

Faktor Penentu Masyarakat Berasuransi

Meskipun demikian, penelitian IFG Progress menemukan tiga faktor utama yang menghambat partisipasi masyarakat dalam industri asuransi, yaitu persepsi bahwa perlindungan belum diperlukan, ketidakpercayaan terhadap perusahaan asuransi, serta anggapan bahwa premi cenderung mahal.

“Yang lebih mengecewakan, dari 53% responden yang belum memiliki asuransi tetapi berencana membeli produk, sekitar 40% hanya berencana mendaftar lebih dari lima tahun ke depan,” ujar Denny.

Ia juga berusaha memperbaiki beberapa kesalahpahaman yang sudah melekat di masyarakat.

Pertama, keyakinan bahwa pengajuan klaim asuransi rumit dan mahal. Faktanya, pemegang polis bisa mengajukan klaim secara digital melalui aplikasi dengan mengunggahsoftcopy dokumen tanpa pungutan biaya.

Kedua, keyakinan bahwa asuransi hanya ditujukan untuk kalangan tertentu, padahal produk IFG Life dibuat fleksibel sesuai kemampuan keuangan di setiap tahap kehidupan.

Ketiga, pandangan bahwa manfaat asuransi jiwa hanya bisa dirasakan setelah pemegang polis meninggal. Produk seperti IFG LifeCHOICE justru memberikan perlindungan terhadap penyakit serius sejak nasabah masih hidup.

Keempat, kekhawatiran tentang kesulitan mengajukan klaim di kota kecil, yang dibantah oleh layanan digitalseamless.

Kelima, persepsi bahwa premi mahal, sementara IFG menawarkan berbagai pilihan yang bisa disesuaikan dengan kemampuan keuangan masyarakat.

Baca Juga  IHSG Turun 0,21%, EMTK dan SCMA Melonjak Akibat Isu IPO Superbank

Sebagai lembaga penelitian yang berada di bawah naungan IFG, IFG Progress terus melakukan evaluasi berbasis data guna mengenali ketimpangan literasi dan inklusi asuransi.

Laporan penelitiannya bisa ditemukan di ifg.id/ifg-progress sebagai dasar penyusunan program pendidikan yang lebih tepat sasaran.

Secara keseluruhan, Denny menyampaikan tujuan IFG dalam lima tahun mendatang mengenai inklusi asuransi adalah untukmeningkatkan secara signifikan tingkat literasi dan inklusi asuransi nasional melaluipeningkatan penyebaran produk, edukasi literasi yang luas, pengembangan produk yang kreatifdan dunia digital, serta kemitraan strategis dengan berbagai pihak.

Selanjutnya, ia menyampaikan IFG akan terus mengawasi iIndikator-indikator ini didasarkan pada penelitian berkelanjutan dari IFG Progress untuk memastikan efektivitas strateginya.

Setiap tujuan ini diawasi dengan cermat oleh IFG Progress, dan menjadi arahan bagi seluruhanggota holding untuk bergerak bersama,” pungkasnya.

Sebagai informasi, IFG adalah konglomerat BUMN yang bergerak di bidang asuransi, jaminan, dan investasi, yang berada di bawah naungan Danantara Indonesia, serta didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2020 mengenai penambahan penyertaan modal negara ke dalam modal saham PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero).

Sekarang IFG mengelola 10 anggota holding, yakni Askrindo, Jamkrindo, Jasa Raharja, Jasindo, Bahana Sekuritas, Bahana TCW Investment Management, Bahana Artha Ventura, Grahaniaga Tatautama, Bahana Kapital Investa, dan IFG Life.