Beberapa perusahaan terbuka lapis dua serentak mengadakan penambahan modal dengan menggunakan skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) ataurights issuedengan nilai besar. Di antara perusahaan tersebut adalah PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) dan PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX).
Kepala Penelitian Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menganggap, terdapat beberapa faktor yang mendorong perusahaan-perusahaan di lapis dua berani melakukan tindakanright issue jumbo. Pertama, faktor cerita (story) dari pengeluaran modal ataucapex masing-masing emiten. Proyek seperti fiber to the home(FTTH) yang akan dikembangkan oleh perusahaan tersebut memerlukan pengeluaran modal yang besar di awal.
“Rights issuelebih tepat dibandingkan utang ketika arus kas masih meningkat,” ujar liza dalam keterangan resmi yang dikutip Rabu (1/10).
Kedua, memanfaatkan momentum (window of theme). Saat ini, menurutnya, pasar tengah tertarik pada isu koneksi dan internet murah yang dikenal sebagai “proyek internet rakyat”. Perusahaan melihat antusiasme investor sedang tinggi sehingga momen ini dimanfaatkan untuk mengumpulkan dana dari pasar.
- Penggemar Bond Segera Mendapatkan Film Baru, Danantara Telah Mengajukan Izin ke OJK
- Pemerintah Mengajukan Pinjaman Sebesar 7 Triliun Rupiah Melalui Lelang Sukuk Pada Minggu Ini
Ketiga, pertimbangan perbankan (bankability). Bank biasanya lebih waspada dalam memberikan pinjaman kepada proyek yang masih berada di tahap awal. Dengan meningkatkan modal sendiri melaluirights issue, perusahaan memiliki kemampuan untuk memperluas skala operasionalnya sehingga lebih menarik bagi lembaga perbankan.
Keempat, sinyal strategi (strategic signaling). Kehadiran mitra strategis, seperti kerja sama antara anak perusahaan WIFI, PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE) dengan perusahaan global NTT dapat memperkuat keyakinan pasar terhadap perusahaan.
“[Tindakan ini] untuk meningkatkan kredibilitas, sering terlihat pada perusahaan yang bukan LQ45 untuk naik kelas,” ujar Liza.
Hal yang Harus Diperhatikan Investor
Liza juga memberikan saran kepada para investor dalam mempertimbangkan keputusan yang berkaitan dengan rights issue.Menurut Liza, hal pertama yang perlu diperhatikan oleh investor adalah kejelasan penggunaan dana.
Para investor diharapkan mampu mengamati dengan cermat arah penggunaan dana oleh perusahaan, seperti jumlah home-pass yang akan dipasang, tingkat pelanggan yang ingin dicapai, rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU), hingga perkiraan waktu pengembalian modal per wilayah.
Untuk kasus IRSX, mohon berikan informasi lebih lanjutpipelineproduk atau bagian yang didanai right issue (bukan sekesar ekspansi),” ujarnya.
Selain itu, menurutnya, struktur tindakan juga perlu diperhatikan. Investor perlu membandingkan harga beli dengan harga teoritis saham setelahrights issuehingga siapa yang akan menjadi pembeli aktif dalam aksi tersebut.
Ia menilai, kredibilitas pihak sponsor atau mitra strategis juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Ia memberikan contoh, kehadiran NTT e-Asia dalam ekosistem WIFI yang menunjukkan adanya nilai tambah berupa teknologi dan jaringan yang mampu meningkatkan daya saing perusahaan.
Investor juga diingatkan untuk waspada terhadap faktor tata kelola dan kebijakan perusahaan yang sedang berlangsung. Di IRSX, misalnya, perubahan pengendali, perubahan nama, rencana penerbitan opsi saham, hingga kemungkinan penawaran wajib (MTO) serta riwayat penundaan saham perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi transparansi dan risiko investasi.
Dari segi penilaian, para investor sebaiknya mengevaluasi kembali kapitalisasi pasar dan nilai perusahaan (enterprise value) setelah tindakanrights issue. Perhitungan tersebut selanjutnya dibandingkan dengan perusahaan sejenis, baik di sektor telekomunikasi, penyedia layanan internet maupun platform digital untuk mengetahui posisi persaingannya.
Liza juga menegaskan bahwa saham lapis dua cenderung lebih rentan terhadap perubahan. Oleh karena itu, para investor perlu memiliki disiplin dalam menentukan besaran investasi, serta mempersiapkan berbagai skenario antisipasi jika pencapaian target operasional tidak sesuai dengan harapan.
Masalah Jumbo WIFI, INET, dan IRSX
WiFi menjadi salah satu yang telah melaksanakan rights issuePada tahap pertama, sebesar Rp 5,89 triliun diperoleh dengan menjual 2,94 miliar saham dengan harga Rp 2.000 per lembar. Sekitar Rp 5,8 triliun dari dana tersebut dialokasikan kepada anak perusahaannya, PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE), untuk mengembangkan jaringan FTTH dengan target lima juta rumah yang terhubung.
Di sisi lain, INET sedang menargetkan dana sebesar Rp 3,2 triliun dari aksi tersebut.rights issueyang akan menerbitkan 12,8 miliar saham baru. Dengan harga pelaksanaan Rp 250 per lembar dan rasio 3:4, kepemilikan saham lama berisiko mengalami pengurangan hingga 57,14% jika tidak ikut berpartisipasi.
Mayoritas pemegang saham PT Akun Digital Indonesia Tbk (AKUN) telah berkomitmen untuk membeli seluruh saham baru serta menjadi pembeli cadangan. Dana segar akan terutama dialirkan ke anak perusahaan PT Global Prima Integrasi (GPI) untuk pengembangan jaringan FTTH serta ke PT Prima Fiber Indonesia (PFI) sebagai dana pembangunan jaringan.
Sementara itu, IRSX telah mendapatkan persetujuan RUPSLB pada 25 September 2025 untuk menyelenggarakanrights issuehingga 12,39 miliar saham. Aksi ini dilengkapi dengan opsi penerbitan waran seri II sebanyak 1,85 miliar unit. Dengan proporsi maksimal 66,67% saham baru. Manajemen menyebut dana yang diperoleh akan digunakan untuk pengeluaran modal dan operasional, sesuai dengan perubahan struktur kepemilikan dan identitas perusahaan.











