Telah menjadi rahasia umum bahwa beberapa proses pemilihan pemeran pendukung dalam film sering kali dihiasi oleh tindakan pelecehan seksual. Hal ini bisa terjadi dari pihak produser atau sutradara yang memutuskan siapa yang akan dipilih saat audisi, dengan menawarkan kesempatan untuk naik daun jika bersedia tidur bersama produsen atau sutradara tersebut. Di sisi lain, ada juga calon pemeran yang secara sengaja menawarkan kehangatan tubuhnya agar dinikmati oleh produsen atau sutradara, asalkan mereka terpilih.
Memang kejadian ini merupakan stereotip yang sering terjadi dalam industri film di dunia. Terlebih lagi Hollywood yang lebih terbuka, sementara Indonesia yang cenderung konservatif pun tidak sulit menemukan beberapa produser, sutradara, atau calon artis yang “nakal”.
Bahkan di Iran, seorang sutradara perempuan bernama Mehrnoush Alia memberikan kritik sosial terhadap industri perfilman.
Film dengan durasi 100 menit yang ditujukan untuk penonton berusia 13 tahun ke atas ini, menggambarkan suasana audisi seorang sutradara laki-laki, yang tidak muncul secara utuh, sementara kameranya merekam proses audisi di sebuah studio yang kosong. Secara keseluruhan, film hanya menampilkan suara dari sutradara laki-laki tersebut yang memberikan pertanyaan dan instruksi kepada para calon seniman, yang sebagian besar adalah perempuan muda dan menarik.
Tidak dijelaskan jenis peran apa yang sedang dicari, hanya disebutkan tema film mengenai kisah “1001 Malam”.
Film hanya menampilkan adegan audisi beberapa peserta secara bergantian. Awalnya pertanyaan dan instruksi yang formal, membuatnya terasa membosankan (sampai saya melihat penonton di sebelah saya tertidur sambil menguap).
Akhirnya, pertanyaan dan perintah semakin mengarah ke pribadi sehingga beberapa calon artis merasa tidak nyaman.
Bahkan instruksi awal memiliki maksud tersembunyi, ada calon artis yang harus menirukan perilaku kucing betina saat musim kawin, ada seorang calon artis yang diminta berjalan dengan gaya yang menggoda, dan ada seorang artis yang harus mendorong sutradara ketika ia mendekati calon artis tersebut.
Rata-rata para calon artis merasa pertanyaan dan perintah yang diberikan sudah tidak sesuai, sehingga mereka memutuskan untuk kembali. Namun ternyata pintu keluar dalam keadaan terkunci.
Di tengah keadaan kacau, berbagai perilaku calon artis terlihat, seperti mengetuk pintu, memukul dinding studio, berteriak dengan emosi tinggi, bahkan ada yang berusaha melemparkan kursi ke arah kamera.
Sutradara pria yang ternyata telah memprediksi berbagai penolakan dari calon artis tersebut tetap tenang.
Bagaimana akhir dari film yang menjadi kritik dari seorang sutradara perempuan yang feminis? Apakah kekhawatiran para calon artis menjadi kenyataan?
Review
Film berjudul “1001 Frames” dibuat di Iran yang mengangkat topik tentang kekuatan, penindasan, dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan serta mengkritik sistem patriarki dalam industri perfilman.
Film ini secara berani mengungkap kelemahan yang ada di dalam industri perfilman global.
Kelemahan film ini terletak pada banyaknya adegan yang berulang, tetapi hal tersebut cukup tertutupi oleh penampilan aktor yang kuat.
Keunggulan film ini, Mehrnoush Alia dengan berani mengungkap kelemahan industri perfilman, melalui kritik sosial yang tajam dan sesuai dengan zaman.
Film ini menampilkan Mohammad Aghebati, Mahin Sadri, Leili Rashdi, Mahesa Rezaei, dan Behafarid Ghaffarian.
Diputar pada hari kelima Jakarta World Cinema (JWC) 2025, setelah selesai pemutaran film diadakan sesi diskusi bersama sutradara film tersebut.











