Trending

Trump dan Pfizer Sepakat Turunkan Harga Obat di AS

Jakarta, IDN Times – Pemerintahan Donald Trump mengumumkan perjanjian besar dengan perusahaan farmasi besar Pfizer untuk mengurangi biaya obat di Amerika Serikat (AS). Inisiatif ini terdiri dari dua poin utama, yaitu pengenalan situs web diskon yang diberi nama “TrumpRx” serta penerapan sistem harga khusus untuk program asuransi kesehatan bagi penduduk miskin, Medicaid.

Pfizer menjadi perusahaan farmasi pertama yang secara sukarela menyetujui seluruh tuntutan yang diajukan oleh Trump kepada para pemimpin industri obat. Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat selama ini menghadapi sistem harga obat yang tidak adil.

“AS telah selesai menyediakan subsidi layanan kesehatan secara global. Dengan mengambil tindakan berani ini, kami mengakhiri praktik penipuan harga yang merugikan keluarga Amerika,” kata Trump, dilansirCNN, Rabu (1/10/2025).

1. Detail perjanjian Trump-Pfizer dan situs TrumpRx

Melalui situs TrumpRx yang rencananya akan diumumkan pada awal 2026, Pfizer akan memberikan potongan besar untuk obat yang dibeli secara tunai tanpa menggunakan asuransi.. Perusahaan tersebut mengklaim bahwa diskonnya bisa mencapai 85 persen, dengan rata-rata 50 persen untuk sebagian besar obat pengobatan dasar dan beberapa obat resep bermerk.

Situs ini tidak akan menjual obat secara langsung, tetapi berperan sebagai portal yang mengarahkan pengguna ke laman resmi produsen. Selain diskon di TrumpRx, Pfizer juga berkomitmen menerapkan sistem hargaMost Favored Nation (MFN) untuk program Medicaid.

Baca Juga  Pemerintah AS Lumpuh Akibat Krisis Politik: Layanan dan Ekonomi Terancam

Skema tarif yang sama untuk semua negara (MFN) berarti Pfizer akan menjual obatnya kepada Medicaid dengan harga terendah yang setara dengan harga di negara-negara maju seperti Kanada, Jerman, atau Jepang. Dalam pertukaran, Pfizer akan menerima penghapusan bea impor obat selama tiga tahun.

Pfizer juga berkomitmen untuk menambah investasi sebesar 70 miliar dolar AS (sekitar Rp1,1 kuadriliun) dalam penelitian dan produksi di dalam negeri. Albert Bourla, CEO Pfizer, menyatakan bahwa kesepakatan ini memberikan kepastian yang dibutuhkan oleh industri.

“Kami kini memiliki kepastian dan stabilitas yang kami butuhkan dalam dua bidang penting, yaitu tarif serta penetapan harga, yang telah mengakibatkan valuasi industri turun ke tingkat terendahnya,” ujar Bourla, dilaporkan.Politico.

2. Keraguan para ahli mengenai manfaatnya bagi masyarakat Amerika Serikat

Beberapa ahli kesehatan menyampaikan keraguan mengenai manfaat kesepakatan ini bagi sebagian besar penduduk Amerika Serikat. DilansirNBC News, mereka menyoroti bahwa potongan harga besar di TrumpRx hanya berlaku bagi pasien yang membayar langsung, sementara sebagian besar penduduk Amerika menggunakan asuransi untuk membeli obat-obatan.

Baca Juga  Tok, DPR Setujui Perubahan UU, Kementerian BUMN Berubah Jadi Badan Pengaturan

Meskipun telah diberikan diskon besar, beberapa obat tetap dianggap tidak terjangkau oleh pasien yang membayar sendiri. Misalnya, obat untuk radang sendi Xeljanz yang biasanya harganya lebih dari 6.000 dolar AS per bulan (sekitar Rp99 juta), masih sekitar 3.600 dolar AS (sekitar Rp59,8 juta) setelah mendapat diskon 40 persen.

Manfaat skema MFN bagi pasien Medicaid juga diragukan, karena mereka pada dasarnya telah membayar sangat sedikit atau bahkan gratis untuk obat-obatan yang mereka butuhkan. Oleh karenanya, beberapa analis menganggap perjanjian ini lebih terlihat seperti strategi pemasaran perusahaan farmasi yang hanya akan memberikan manfaat kepada sejumlah kecil orang.

“Menurut saya, dampaknya tidak sebesar yang dipromosikan oleh presiden. Saya merasa ini lebih seperti hiasan atau tambahan, bukan perubahan besar yang benar-benar diperlukan untuk mengurangi kesulitan masyarakat Amerika dalam menghadapi harga yang tinggi,” kata seorang profesor dari Harvard Medical School, Ameet Sarpatwari, dilansirNPR.

3. Kemungkinan kenaikan harga obat di luar negeri

Trump secara terbuka mengakui bahwa kebijakannya kemungkinan akan menyebabkan kenaikan harga obat di negara lain, sementara di AS akan turun. Namun, ia merasa perubahan harga tersebut adil.

Kekhawatiran ini mulai terlihat, dengan beberapa perusahaan telah mengambil tindakan serupa. Contohnya, Eli Lilly yang berencana menaikkan harga obat Mounjaro di Inggris guna memangkas biaya di AS.

Baca Juga  Sidang Korupsi Kredit Fiktif Bank Jatim: Khofifah Terlibat dalam Sirkel Bun Sentoso

Harga obat resep di Amerika Serikat memang hampir tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan negara-negara maju lainnya. Perbedaan ini terutama disebabkan oleh peran pemerintah di negara-negara lain yang sering kali turut campur dalam menentukan harga obat.

Asosiasi industri farmasi PhRMA mengingatkan bahwa penerapan pengendalian harga dari luar negeri dapat merusak posisi kepemimpinan Amerika Serikat dan pada akhirnya merugikan pasien serta karyawan. Meskipun demikian, Trump menyatakan bahwa kesepakatan ini dengan Pfizer akan menjadi contoh bagi perusahaan obat lain.

Trump Terapkan Pajak 100 Persen terhadap Obat yang Diimpor, Berlaku Mulai 1 Oktober Trump Akan Menerapkan Tarif Baru, Obat serta Perabot Terkena Dampak